banner 728x250

Menjemput Berkah di Sumur Arung Senga: Ritual Sakral Mallekke Wai Warnai Hari Jadi Luwu ke-67

banner 468x60

BELOPA — Deru modernisasi zaman boleh saja terus melaju, namun masyarakat Tana Luwu membuktikan bahwa akar tradisi tidak akan pernah luntur. Pada Kamis pagi (2/7/2026), suasana di Baruga Arung Senga, Kecamatan Belopa, mendadak khidmat. Di tengah riuhnya perayaan Hari Jadi Kabupaten Luwu ke-67, sebuah ritual kuno nan sakral kembali dihidupkan: Mallekke Wai, prosesi pengambilan air suci yang telah diwariskan turun-temurun dari para leluhur.

Tepat pukul 09.00 WITA, prosesi ini dimulai dengan penuh keagungan. Kehadiran Wakil Bupati Luwu Muh. Dhevy Bijak Pawindu, Ketua DPRD Luwu Ahmad Gazali, Sekretaris Daerah Muh. Rudi, serta para pemuka adat dan masyarakat setempat, menegaskan betapa pentingnya ritual ini bagi identitas Bumi Sawerigading.

Example 300x600

Simbol Kesucian dari Masa Lampau

Mallekke Wai bukanlah sekadar tontonan seremonial. Ritual ini sarat akan filosofi mendalam tentang hubungan manusia, alam, dan sejarah. Air suci yang menjadi pusat perhatian dalam prosesi ini diambil langsung dari Bubung Parani (Sumur Arung Senga), sebuah situs bersejarah yang diyakini sebagai tempat pemandian Opu Senga pada masa lampau. Hingga detik ini, air dari sumur tersebut tetap disakralkan oleh masyarakat Luwu.

Prosesi pengambilannya pun tidak sembarangan. Setelah diambil lewat tata cara adat yang ketat, air suci tersebut diarak menggunakan Sinrangeng Lakko—sebuah usungan adat yang dipangku oleh seorang gadis remaja yang belum akil balig sebagai simbol kesucian yang murni.

Iring-iringan ini kian magis dengan kehadiran Palluru Gau, barisan pembawa instrumen dan atribut upacara adat yang mengawal para pemuka adat menuju lokasi utama. Setibanya di Baruga Arung Senga, air suci tersebut ditempatkan di atas Lamming Pulaweng (Singgasana Kehormatan) sebagai puncak dari ritual adat.

Menjaga Jati Diri di Tengah Kemajuan

Pemilihan waktu ritual di pagi hari pun menyimpan makna mendalam. Layaknya matahari yang terbit dari ufuk timur membawa cahaya, ritual pagi ini adalah simbol doa dan harapan agar Kabupaten Luwu senantiasa tumbuh, maju, dan membawa kesejahteraan bagi masyarakatnya.

Wakil Bupati Luwu, Muh. Dhevy Bijak Pawindu, dalam pidatonya menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak boleh mengorbankan akar budaya.

“Melalui prosesi Mallekke Wai, kita tidak hanya memperingati Hari Jadi Kabupaten Luwu, tetapi juga meneguhkan komitmen untuk menjaga warisan budaya yang menjadi identitas kita. Pembangunan harus berjalan seiring dengan pelestarian budaya agar kemajuan yang dicapai tidak menghilangkan jati diri masyarakat Luwu,” ungkap Dhevy.

Ia juga menaruh harapan besar kepada generasi muda Tana Luwu agar tidak asing dengan tradisinya sendiri. Di era digital ini, Mallekke Wai diharapkan menjadi ruang edukasi visual yang efektif agar anak muda dapat mengenal, mencintai, dan menjaga nilai-nilai luhur Tana Luwu agar tetap hidup di masa depan.

Melalui Mallekke Wai, Luwu mengirimkan pesan kuat kepada dunia: sejauh apa pun melangkah maju, mereka tidak akan pernah lupa dari mana mereka berasal. (Red)

banner 325x300
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *